Jurnal9.com
Business Headline

Jika Tambahan Anggaran Subsidi Ditolak DPR, Harga BBM dan Listrik Bakal Naik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA, jurnal9.com – Anggaran subsidi dan kompensasi energi bisa melonjak  tinggi akibat kenaikan harga minyak (ICP). Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 harga ICP mencapai US$ 63 per barel. Sedangkan rata-rata harga ICP saat ini telah mencapai US$ 100 per barel.

Terkait dengan itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah meminta penambahan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2022.

“Kami meminta penambahan anggaran itu supaya harga BBM dan tarif listrik tidak naik. Kalau ini [anggaran subsidi dan kompensasi] tak dinaikkan, ya bisa jadi harga BBM dan listrik naik,” kata Menkeu dalam rapat dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis (19/5/2022).

“Supaya BBM dan listrik tidak naik, ya ini yang harus naik. Kan itu saja pilihannya. Kalau gak berarti pengeluaran dalam APBN kita besar,” kata Sri Mulyani

Dia menjelaskan subsidi dan kompensasi melonjak tinggi dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 443,6 triliun atau naik Rp 291 triliun.

Menkeu mengusulkan untuk subsidi energi 2022, ia meminta tambahan Rp 74,9 triliun. Ini akan dialokasikan untuk subsidi BBM, LPG, dan listrik.

Dia merinci, BBM dan LPG membutuhkan anggaran Rp 71,8 triliun dan listrik Rp 3,1 triliun. Tambahan anggaran itu akan dibayarkan keseluruhan.

Sedangkan untuk kompensasi energi, dia mengusulkan Rp 324,5 triliun pada 2022. Nilai itu terbagi atas Rp 216 triliun untuk kompensasi energi di 2022 dan Rp 108,4 triliun untuk melunasi tagihan kompensasi 2021.

“Kami mengusulkan untuk undang-undang APBN ini ditambahkan untuk pembayarannya sebesar Rp 275 triliun saja,” jelas Sri Mulyani.

Sedangkan sisanya, pemerintah terlebih dahulu akan meminta audit BPKP dan nanti pembayaran settlement-nya akan dilakukan pada 2023, sebesar Rp 49,5 triliun, yaitu Rp 44,5 triliun untuk BBM dan Rp 5 triliun untuk listrik.

Baca lagi  Smesco Ajak Masyarakat Belanja Produk UMKM Unggulan di Sparc Live Shopping

Permintaan kenaikan anggaran itu, karena imbas dari naiknya harga komoditas dunia. Dalam APBN 2022 harga ICP mencapai US$ 63 per barel. Sedangkan rata-rata harga ICP saat ini telah mencapai US$ 100 per barel.

Undang-Undang APBN, kata Sri Mulyani, memberikan alokasi untuk subsidi energi hanya Rp 134 triliun, yaitu BBM dan elpiji Rp 77,5 triliun, dan listrik Rp 56 triliun.

“Dalam UU APBN juga diberikan kompensasi hanya sebesar Rp 18,5 triliun, yaitu untuk kompensasi BBM saja, terutama untuk solar pertalite, listrik tidak ada kompensasi. Jadi alokasi APBN sebesar Rp 152,5 T itu untuk subsidi dan kompensasi,” jelasnya.

Dia menegaskan adanya perubahan harga keekonomian dari minyak tanah, solar, LPG, pertalite yang diasumsikan ICP-nya sebesar US$ 100 per barel, maka subsidi energi akan menggelembung menjadi US$ 208,9 triliun atau naik Rp 74,9 triliun. Nilai itu dibagi untuk BBM dan LPG akan melonjak lebih dari dua kali lipatnya, Rp 149,4 triliun dan listrik naik Rp 59,6 triliun.

Kompensasi itu, lanjut Menkeu, melonjak sangat tinggi karena barang-barang yang tadinya tidak diatur, juga tidak dinaikkan harganya; seperti pertalite.

“Seperti masyarakat ketika mudik lebaran kemarin mobilnya menggunakan pertalite, dan itu nanti harus dibayar pemerintah ke Pertamina dalam bentuk kompensasi Rp 114,7 triliun,” tuturnya.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Kontroversi Jaksa Agung Larang Terdakwa Pakai Atribut Agama dalam Persidangan

adminJ9

Harkop ke-74: Koperasi di Sektor Pariwisata Punya Potensi Besar untuk Berkembang

adminJ9

Cangkok Jantung Babi Masih Kontroversi karena Risiko Cytomegalovirus yang Bahaya

adminJ9